✔ Mengenal Lebih Jauh Wacana Pondok Pesantren Cendekia
Mengenal Lebih Jauh Tentang Pondok Pesantren Cendekia
Latar Belakang
Ada beberapa alasan mengapa Cendekia didirikan, di antaranya:
Pada bulan Oktober 1992 saya simpulan kuliah di FKIP Universitas Mataram dan Nopember 1992 saya mulai megajar di Madrasah Aliyah Mu’allimin NW Pancor. Pada bulan Januari 1993, saya diterima menjadi dosen di STKIP Hamzanwadi Pancor (kini Universitas Hamzanwadi) dan pada bulan Juni 1993 saya diajak menjadi dosen di STIT Hamzanwadi Pancor (kini Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor) oleh Ketua STIT Hamazanwadi ketika itu Bapak Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man. Perkenalan saya dengan ketua STIT Hamzanwadi ini atas rekomendasi dari Kepala Madrasah Aliyah Mu’allimin NW Pancor ketika itu, Bapak Drs. H. Sahafari Asy’ari. Di STIT Hamzanwadi dan di Madarasah Aliyah Mu’allimn NW Pancor seluruh kemampuan saya perihal pendidikan saya usulkan dan aplikasikan sehingga saya kelihatannya sangat aktif dan sibuk alasannya ialah banyak aktivitas yang sebelumnya tidak ada menjadi ada di sekolah dan di kampus tersebut.
Baca Juga : Misi Visi Tujuan Pontren Cendekia
Dalam keaktifan ini tampaknya pimpinan memperlihatkan apresiasi sehingga saya diusulkan ke yayasan menjadi Wakil Kepala Urusan Kesiswaan pada Madrasah Aliyah Mu’allimin NW Pancor dan menjadi Pembantu Ketua III Urusan Kemahasiswaan pada STIT Hamzanwadi Pancor. Dalam keaktifan saya di kampus ini ternyata diperhatikan juga oleh salah seorang dosen STIT Hamzanwadi dan tokoh Nahdlatul Wathan, yakni Bapak Drs. H. Syihabudin Rahman Kelayu. Satu malam sesudah magrib di rektorat Kampus STIT Hamzanwadi/ruang dosen dia memanggil saya dan mengajak saya ngobrol tentang kampus, madrasah, dan organisasi. Dalam obrolan ini, dia bilang, “Pak Mugni, ketika kami di Mu’allimin dulu Maulana Syaikh sering sekali bilang, ‘Saya sangat besar hati dan bahagia pada murid saya yang bisa membangun madrasah’ Alhamdulillah, teman-teman di Mu’allimin dulu rata-rata sudah punya madrasah. Saya sudah punya di rumah di Kelayu sekalipun kecil, Pak Hayyi sudah punya juga di rumahnya di Dasan Tumbu. Pak Mustamik sudah juga di rumahnya di Suralaga. Pak Sahafari sudah punya juga di rumah di Penendem Keruak. Tapi Pak Mugni gak perlu mendirikan alasannya ialah di Kalijaga kan sudah ada madrasah yang dibangung Tuan Guru Saleh, tinggal Pak Mugni melanjutkan dan mengembangkannya saja”. Saya pun eksklusif menyela, “Oh mudahn kita punya juga Ustad”. Beliau menyahuti, “mudah-mudahan alangkah bagusnya”. Dalam tahap selanjutnya saya cukup dekat dengan belaiu. Bahkan saya telah mengaggap dia sebagai guru oragnsasi saya.
Baca Juga : Motto dan Program Pondok Pesantren Cendekia
Saya sering bilang bahwa guru organisasi saya di Nahdlatul Wathan ada 3, yakni Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man, Drs. H. Sahafari Asy’ari, dan Drs. H. Syihabudin Rahman. Beliau-beliau ini tidak pernah mengajar saya di kelas alasannya ialah saya tidak pernah sekolah di Pancor. Saya menjadi abituren Nahdlatul Wathan dari Pondok Pesanatren Darussholihin NW Kalijaga yang didirikan oleh TGH. Muhammad Shaleh Ahmad. Di pondok pesantren inilah saya menuntaskan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Dari tahun 1994 sd. 2005 kami aktif di Pengurus Daerah NW Lombok Timur besama ketiga tokoh Nahdlatul Wathan ini. Bapak Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man menjadi Ketua Umum, Bapak Drs. H. Sahafari Asy’ari menjadi Sekretaris Umum, Bapak Drs. H. Syihabudin Rahman menjadi Wakil Ketua dan saya menjadi Wakil Sekretaris. Setelah Bapak Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man menjadi Sekretaris Jenderal PBNW hasil Muktamar ke-10 di Praya, Ketua Umum Pengurus Daerah NW Lombok Timur dijabat oleh Bapak Drs. H. Syihabudin Rahman dan Pak Sahafari dan saya tetap pada jabatan semula. Apa yang disampaikan oleh Bapak Drs. H. Syihabuddin ini tetap terpatri dalam benak saya bahwa satu ketika saya harus punya madrasah karena ingin juga dibanggakan oleh Sang Maha Guru Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagi pendiri Nahdlatul Wathan.
Baca Juga : Misi Visi Tujuan Pontren Cendekia
Dalam keaktifan ini tampaknya pimpinan memperlihatkan apresiasi sehingga saya diusulkan ke yayasan menjadi Wakil Kepala Urusan Kesiswaan pada Madrasah Aliyah Mu’allimin NW Pancor dan menjadi Pembantu Ketua III Urusan Kemahasiswaan pada STIT Hamzanwadi Pancor. Dalam keaktifan saya di kampus ini ternyata diperhatikan juga oleh salah seorang dosen STIT Hamzanwadi dan tokoh Nahdlatul Wathan, yakni Bapak Drs. H. Syihabudin Rahman Kelayu. Satu malam sesudah magrib di rektorat Kampus STIT Hamzanwadi/ruang dosen dia memanggil saya dan mengajak saya ngobrol tentang kampus, madrasah, dan organisasi. Dalam obrolan ini, dia bilang, “Pak Mugni, ketika kami di Mu’allimin dulu Maulana Syaikh sering sekali bilang, ‘Saya sangat besar hati dan bahagia pada murid saya yang bisa membangun madrasah’ Alhamdulillah, teman-teman di Mu’allimin dulu rata-rata sudah punya madrasah. Saya sudah punya di rumah di Kelayu sekalipun kecil, Pak Hayyi sudah punya juga di rumahnya di Dasan Tumbu. Pak Mustamik sudah juga di rumahnya di Suralaga. Pak Sahafari sudah punya juga di rumah di Penendem Keruak. Tapi Pak Mugni gak perlu mendirikan alasannya ialah di Kalijaga kan sudah ada madrasah yang dibangung Tuan Guru Saleh, tinggal Pak Mugni melanjutkan dan mengembangkannya saja”. Saya pun eksklusif menyela, “Oh mudahn kita punya juga Ustad”. Beliau menyahuti, “mudah-mudahan alangkah bagusnya”. Dalam tahap selanjutnya saya cukup dekat dengan belaiu. Bahkan saya telah mengaggap dia sebagai guru oragnsasi saya.
Baca Juga : Motto dan Program Pondok Pesantren Cendekia
Saya sering bilang bahwa guru organisasi saya di Nahdlatul Wathan ada 3, yakni Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man, Drs. H. Sahafari Asy’ari, dan Drs. H. Syihabudin Rahman. Beliau-beliau ini tidak pernah mengajar saya di kelas alasannya ialah saya tidak pernah sekolah di Pancor. Saya menjadi abituren Nahdlatul Wathan dari Pondok Pesanatren Darussholihin NW Kalijaga yang didirikan oleh TGH. Muhammad Shaleh Ahmad. Di pondok pesantren inilah saya menuntaskan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Dari tahun 1994 sd. 2005 kami aktif di Pengurus Daerah NW Lombok Timur besama ketiga tokoh Nahdlatul Wathan ini. Bapak Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man menjadi Ketua Umum, Bapak Drs. H. Sahafari Asy’ari menjadi Sekretaris Umum, Bapak Drs. H. Syihabudin Rahman menjadi Wakil Ketua dan saya menjadi Wakil Sekretaris. Setelah Bapak Drs. H. Abdul Hayyi Nu’man menjadi Sekretaris Jenderal PBNW hasil Muktamar ke-10 di Praya, Ketua Umum Pengurus Daerah NW Lombok Timur dijabat oleh Bapak Drs. H. Syihabudin Rahman dan Pak Sahafari dan saya tetap pada jabatan semula. Apa yang disampaikan oleh Bapak Drs. H. Syihabuddin ini tetap terpatri dalam benak saya bahwa satu ketika saya harus punya madrasah karena ingin juga dibanggakan oleh Sang Maha Guru Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagi pendiri Nahdlatul Wathan.
Setelah sarjana saya aktif ikut mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan. Bahkan menjadi insiator pendirian SDI dan Sekolah Menengah kejuruan NW serta 2 akademi tinggi Nahdlatul Wathan. Seluruh manajemen pendirian forum pendidikan dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga dengan akademi tinggi pernah saya lakukan dan mengurus/menyelesaikan seluruh proses perijinannya. Tetepi sesudah saya menjadi doktor dalam bidang pendidikan (Maret, 2012) cukup banyak konsep-konsep perihal pendidikan tidak bisa saya terapkan dengan maksimal kalau saya masih berada di bawah perintah orang lain alasannya ialah konsep-konsep itu harus dikonsultasikan dulu. Bisa saja konsep yang saya olok-olokan tidak diterima alasannya ialah berbedanya sudut pandang/pengalaman atau perbedaan-perbedaan yang lain. Banyak hebat yang bilang, “pengalaman ialah kejadian masa kemudian dan di antara fungsi ilmu ialah prediksimasa depan. Masa kemudian ialah pelajaran, masa sekarang ialah kenyataan, dan masa depan ialah harapan”. Untuk mewujudkan konsep-konsep perihal pendidikan (pondok pesantren) tersebut maka keingiann untuk mendirikan madrasah (pondok pesantren) menjadi semakin tidak terbendung. Dengan bekal iktikad dan tekad yang mantap maka pada tanggal 17 Sya’ban 1434 H./26 Juni 2013 saya dirikan Pondok Pesantren Cendekia Darul Lutviyah Murni NW Aikmel.
Baca Juga : Lembaga-Lembaga di Pontren Cendekia
Pendirian Pondok Pesantren Cendekia di samping dengan 2 alasan di atas juga sebagai lokasi untuk berbagi ilmu pendidikan. Cendekia sebagai lobarotarium untuk meneliti/mengkaji setiap fenomena kependidikan yang muncul untuk pengembangan ilmu pendidikan.
Pilihan Nama
Banyak yang bertanya perihal nama pondok pesantren ini. Pondok Pesantren Cendekia Darul Lutviyah Murni Nahdlatul Wathan. Dalam nama ini ada 3 kata yang perlu mendaptkan penjelasan, yakni (1) Cendekia; (2) Lutviyah; dan (3) Murni. Cendekia ialah visi pondok ini, yakni Cerdas, Ekonomis, Nasional, Demokratis, Kreatif, Indah, dan Amanah. Lutviyah ialah adonan dari nama kedua putri saya, yakni Siti Nurlaeli Lutviani Murni dan Siti Olega Adawiyah Murni. Lutv....dari Lutviyani dan ....iyah dari Adawiyah. Sedangkan Murni ialah gabung dari nama saya dan istri. Mugni dan Herni Widiyanti. Dalam bahasa Arab, Lutviyah besal dari kata latif yang artinya halus, lebut, damai. Sedangkan Darul artinya kampung atau desa. Makara Darul Lutviyah artinya kampung yang damai. Diharapkan juga warga pondok pesantren ini menjadi orang-orang yang berhati halus dan bersikap yang lembut. Pondok Pesantren Cendekia Darul Lutviyah Murni Nahdlatul Wathan dibakukan singkatannya menjadi Pontren Cendekia DLM NW Aikmel.
Baca Juga : Kegiatan Sekolah Dan Pondok Cendekia Aiklomak
Pilihan Lokasi
Saat berencana mendirikan pondok pesantren, banyak tokoh-tokoh di kampung di Kalijaga menyarankan saya supaya mendirikan di Kalijaga saja. Tetapi saya jawab bahwa di Kalijaga sudah ada pondok pesantren dan kalau mendirikan di Kalijaga konsep perihal pondok pesantren sesuai dengan teori pesantren tidak akan bisa maksimal diwujudkan alasannya ialah di Kalijaga tidak banyak sumber air. Bila dipaksakan maka paling-paling akan menggunaka sumur bor. Sumur bor akan memperbanyak pengeluaran untuk menggali dan biaya listrik.
Baca Juga : BIAYA-BIAYA DI PONDOK PESANTREN CENDEKIA
Di samping itu sumur bor juga akan merugikan orang lain alasannya ialah akan menciptakan sumur dangkal milik warga akan menjadi kering. Sumur bor akan menarik/menyerap air-air sumur dangkal lebih-lebih pada isu terkini kemarau. Untuk itu, saya harus mencari lokasi yang banyak air tetapi tidak keluar dari Kecamatan Aikmel. Karena saya dilahirkan dan dibesarkan di Desa Kalijaga yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Aikmel. Bahkan berdasarkan dongeng orang-orang bau tanah di Kalijaga bahwa Desa Kalijlah desa induk di Kecamatan Aikmel. Desa Aikmel yang telah mekar menjadi banyak desa ketika ini yang salah satunya Desa Toya merupakan bagian/wilayah Desa Kalijaga. Salah satu elemen pondok pesantren ialah asrama. Kehiduapn di asrama akan berjalan dengan baik kalau didukung dengan ketersediaan air yang memadai. Untuk itu, saya mencari lokasi yang banyak air. Tentang perlunya sumber air yang menjadi kebutuhan utama di asrama juga merupakan saran dari putri kedua saya “Siti Nurlaeli Lutviani Murni” yang pernah mondok (nyantri) kala SMP. Putri saya bilang, “Kalau Bapak jadi buat pondok pesantren, harus banyak air Pak, supaya tidak usang antri wudhu, mandi, nyuci, dan lain-lain. Makara santri bisa didisiplinkan dan tidak bisa buat-buat alasan” AlhamdulillahAllah Swt. memperlihatkan jalan dan ditemukan lokasi di Dusun Aiklomak Desa Toya Kecamatan Aikmel. Dengan demikian, Pondok Pesantren Cendekia DLM NW Aikmel berlokasi di Dusun Aiklomak Desa Toya Kecamatan Aikmel Lombok Timur. Lokasi ini dikelilingi oleh 7 mata air, yakni (1) Mata Air Aiklomak; (2) Mata Air Umalan Rengget; (3) Mata Air Aikmalang; (4) Mata Air Aikbakang; (5) Mata Air Maloang; (6) Mata Air Aikbakong; dan (7) Mata Air Umalang Seber. Mata air yang berada di lokasi Pesantren Cendekia, yakni Mata Air Aiklomak (100 Meter), Mata Air Umalang Rengget (nol meter), Mata Air Aikmalang (100 meter), dan Mata Air Aikbakang (350 meter).
Maksud
Di antara maksud pendirian Pondok Pesantren Cendekia DLM NW sebagai berikut :
Pondok pesantren ini dibangun dengan memakai konsep pondok pesantren yang asli, yakni forum pendidikan Islam yang di dalamnya ada 5 elemen, yakni asrama, santri, masjid, kajian kitab, dan kiyai (tuan guru/ustad/pengasuh). Pondok pesantren yang menjalankan fungsi dasarnya, yakni transper ilmu-ilmu keislaman, pelestarian tradisi keislaman, dan reproduksi ulama. Untuk itu, hal utama yang dilakukan oleh pondok pesantren ialah megajar santrinya membaca Al-Qur’an. Pondok pesantren Cendekia DLM NW ingin melakukan fungsi-fungsi tersebut. Tempat berguru membaca Al-Qur’an, daerah melestarikan tradis Keislaman, dan mudahan ada di antara santri yang berguru di Cendekia menjadi ulama di masa depan.
Tantatang pendidikan di masa sekarang sangat komplek. Dunia pendidikan telah banyak yang kehilanagn jati diri untuk melahirkan belum dewasa yang berbudi lihur. Cendekia ingin mencetak gerasi Islam yang berbudi tinggi dan siap bersaing di periode global. Mereka siap memasuki dunia gelobal dengan budi, ilmu dan kemampuan berbahasa internasional.
Saya sering bilang, “sebagai orang NW maka putra-putri kita harus pernah sekolah di sekolah/madrasah NW. Ini langkah kita untuk mewariskan NW kepada keturunan kita sesuai dengan bai’at yang telah kita ikrarkan sesuai dengan impian Maulana Syaikh. Tapi banyak orang NW tidak menyekolah putra putrinya di sekolah/madarsah NW. Alasannya macam-macam, di antaranya sekolah NW tidak bermutu, tidak bisa bersaing dengan sekolah-sekolah negeri atau sekolah swasta yang dikelola oleh organisasi lain. Cendekia ingin memperlihatkan balasan atas perilaku apreori tersebut. Seluruh sekolah bermutu “mahal”. Pada sekolah-sekolah bermutu itu “orang NW” siap membayar. Mengapa di sekolahnya sendiri tidak siap? Putra-putri orang NW harus pernah sekolah di sekolah/madrasah NW supaya mereka tau tradisi NW, menyerupai hiziban, sholawat nahdlatain, doa pusaka (robbanafanabima), dan HULTAH NWDI. Inilah tradisi utama Nahdlatul Wathan warisan Muala Syaikhh. Bukankah salah satu fungsi utama pondok pesantren ialah pelestarian tradisi keislaman. Makara salah satu fungsi fungsi utama pondok pesantren Nahdlatul Wathan ialah pelestarian tradisi ke-Nahdlatul Wathan-an.Cendekia akan lebih bermutu kalau wali santri siap untuk “membayar”. Saya juga sering bilang, terutama dihadapan mahasiswa bahwa sekolah murah apalagi gratis itu... tidak bermutu. Lingkungan Cendekia yang merupakan karunia Allah Swt. sangat mendukung untuk membangun sekolah/madrasah bermutu. Cendekia menjadi alternatif pilihan bagi jamaah NW dalam menyekolahkan putra-putrinya. Tapi Cendekia bukan hanya untuk belum dewasa jamaah NW melainkan untuk semua umat Islam. “Niat berguru yang utama. Nahdlatul Wathan akan jadi pagarnya”.
Baca Juga : JURUSAN DAN EKSTRAKURIKULER PONDOK
Baca Juga : Kumpulan MC Bahasa Inggris Untuk Semua Acara
Belum ada Komentar untuk "✔ Mengenal Lebih Jauh Wacana Pondok Pesantren Cendekia"
Posting Komentar